Persiapan Fisik Atlet Menjelang Turnamen Paralympic Tennis
Persiapan Fisik Atlet Menjelang Turnamen Paralympic Tennis. Persiapan fisik atlet Paralympic tennis menjelang turnamen besar seperti Paralimpiade atau Grand Slam menjadi kunci utama kesuksesan di lapangan. Olahraga ini menuntut kombinasi kekuatan, daya tahan, kelincahan, dan eksplosivitas yang tinggi, karena atlet harus menggerakkan kursi roda dengan cepat sambil memukul bola akurat. Di akhir 2025, dengan jadwal kompetisi semakin padat, atlet elite fokus pada program latihan terstruktur yang menggabungkan penguatan otot, pliometrik, dan kondisi spesifik tenis kursi roda. Persiapan ini tidak hanya mencegah cedera, tapi juga memaksimalkan performa saat rally panjang dan pertandingan intens. INFO CASINO
Penguatan Otot Inti dan Tubuh Atas: Persiapan Fisik Atlet Menjelang Turnamen Paralympic Tennis
Atlet Paralympic tennis sangat bergantung pada kekuatan tubuh atas dan inti untuk dorong kursi roda serta pukulan kuat. Latihan rutin mencakup push-up variasi, pull-up, dan rowing untuk bahu serta punggung. Bench press atau overhead press memperkuat lengan dan dada, sementara medicine ball slam serta rotational throw tingkatkan rotasi torso yang penting untuk forehand dan backhand.
Core training seperti plank, Russian twist, dan wheel roll-out jadi prioritas, karena stabilitas inti mendukung transfer tenaga dari tubuh ke raket. Atlet Quad menambahkan latihan grip khusus seperti finger extension atau wrist curl untuk kompensasi gangguan fungsi tangan. Latihan ini dilakukan 4-5 hari seminggu dengan beban progresif, dikombinasikan pemulihan aktif agar otot tetap segar menjelang turnamen.
Mobilitas Kursi Roda dan Kelincahan: Persiapan Fisik Atlet Menjelang Turnamen Paralympic Tennis
Kelincahan di kursi roda menjadi pembeda utama. Latihan spesifik meliputi sprint pendek maju-mundur, figure-eight drill untuk putaran tajam, dan sudden stop-start untuk simulasi perubahan arah cepat. Cone drill di lapangan tenis membantu antisipasi bola dan posisi optimal.
Pliometrik adaptif seperti box push atau explosive push dari posisi diam tingkatkan akselerasi awal. Atlet latihan ini 2-3 hari seminggu dengan volume tinggi repetisi rendah, fokus pada kecepatan bukan endurance. Fleksibilitas bahu dan punggung dijaga dengan stretching dinamis dan yoga ringan, mencegah cedera overuse yang umum di olahraga ini.
Kondisi Kardio dan Simulasi Pertandingan
Daya tahan kardiovaskular krusial karena pertandingan bisa berlangsung 2-3 jam dengan rally panjang. Latihan interval seperti 30 detik sprint kursi roda diikuti 30 detik istirahat, ulangi 10-15 kali, simulasi intensitas match. Rowing ergometer atau hand bike jadi alternatif indoor untuk bangun endurance tanpa beban lapangan.
Menjelang turnamen, atlet lakukan simulasi pertandingan penuh: main set lengkap dengan istirahat resmi, sambil pantau heart rate dan recovery time. Nutrisi dan hidrasi diatur ketat, dengan karbohidrat tinggi pra-latihan dan protein untuk pemulihan. Istirahat cukup serta sleep tracking jadi bagian integral, karena recovery sama pentingnya dengan latihan keras.
Kesimpulan
Persiapan fisik atlet Paralympic tennis menjelang turnamen menggabungkan penguatan tubuh atas serta inti, latihan mobilitas kursi roda, dan kondisi kardio spesifik untuk hadapi tuntutan olahraga unik ini. Program terstruktur dengan progresi bertahap dan fokus pemulihan memastikan atlet peak performa saat kompetisi. Di akhir 2025, pendekatan holistik ini terus buktikan bahwa persiapan fisik bukan hanya soal kekuatan, tapi adaptasi cerdas yang bawa atlet ke puncak prestasi. Pada akhirnya, latihan ini jadi fondasi ketangguhan yang membuat Paralympic tennis semakin menginspirasi dunia.



Post Comment